EKSPLORASI MAHASISWA ASAL UNIVERSITAS PENDIDIKAN MUHAMMADIYAH SORONG DALAM MENYELAMI SEJARAH DI PULAU JAWA TEPATNYA DI SURABAYA MELALUI PROGRAM PMM3

EKSPLORASI MAHASISWA ASAL UNIVERSITAS PENDIDIKAN MUHAMMADIYAH SORONG DALAM MENYELAMI SEJARAH DI PULAU JAWA TEPATNYA DI SURABAYA MELALUI PROGRAM PMM3

Salah satu mahasiswa outbound asal Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong yang bernama Rizqi Fadil Nadila menjadi peserta program pertukaran mahasiswa merdeka 3 di Universitas Airlangga. Dalam mengikuti program PMM3 Rizqi masuk dalam kelompok modul nusantara yang bernama “MAHATTA” yang mana di dalam kelompok tersebut memiliki dosen pembimbing bernama Diansanto Prayoga, S.K.M.,M.Kes didampingi dengan LO yang bernama Huuriyah Naziiha Zaatil Aqmar.

Kelompok modul nusantara MAHATTA banyak mengunjungi tempat-tempat bersejarah yang ada di pulau jawa timur salah satunya yaitu kampung maspati yang terletak di Jalan Maspati Gang. VI, Bubutan, Kecamatan Bubutan, Surabaya, Jawa Timur. Kampung lawas maspati merupakan salah satu kampung heritage yang berada di kota surabaya. Kampung ini dihuni 375 Kepala Keluarga (KK) dengan jumlah penduduk mencapai 1.750 jiwa. Kampung lawas maspati dijadikan kampung wisata yang menyajikan sejarah surabaya zaman kolonial. Konon, kampung ini dijadikan sebagai tempat tinggal pejuang zaman kemerdekaan dan saat ini rumah pejuang tersebut dihuni oleh anak dan cucu mereka.

Ada beberapa rumah yang dijadikan ikon kampung lawas. Salah satunya yaitu sekolah Ongko Loro yang merupakan bekas Sekolah Rakyat. Sekolah Ongko Loro merupakan Sekolah Rakyat atau Sekolah Dasar dengan masa pendidikan selama Tiga Tahun yang bertujuan memberantas buta huruf dan mampu berhitung. Setelah tamat dari sekolah ini, murid masih dapat meneruskan pada Schakel School selama 5 tahun yang tamatannya nantinya akan sederajat dengan Hollandse Indische School.

Tak jauh dari Rumah Ongko Loro terdapat sebuah bangunan Omah Tua yang di atapnya tertulis 1907. Tulisan di atap rumah tersebut memang sebagai penanda bangunan itu didirikan pada tahun 1907. Konon katanya saat zaman kolonial Belanda, tempat tersebut dijadikan lokasi pertemuan para pemuda pemudi untuk menyusun strategi perang.

Ada satu lagi bangunan yang menarik di Kampung Lawas Maspati yaitu makam pasangan suami istri Raden Karyo Sentono dan Mbah Buyut Suruh. Mereka adalah kakek dan nenek dari Joko Berek atau Sawunggaling yang merupakan pahlawan besar di Surabaya.

Bangunan-bangunan bersejarah yang berada di kampung lawas maspati hingga saat ini masih terjaga dan masih berdiri dengan kokoh.

Kampung Lawas Maspati bukan kampung sembarangan. Kampung ini sangat layak untuk dikunjungi karena banyak sekali hal menarik yang dapat ditemui dan dipelajari pengunjung mulai dari sejarah, penataan kampung, cara daur ulang sampah, mengolah tanaman sekitar menjadi obat-obatan herbal, dan masih banyak lagi. Saya pun tak segan untuk melabeli kampung penuh kreasi pada kampung ini karena saking banyaknya hal baru yang dapat saya pelajari.

Penulis : Rizqi Fadil